Ah.. Kamu.

Kadang perasaan kita terbawa, atau berubah, hanya karena 1 pertanyaan.

Klo versinya Arham kendari, pertanyaan trending topic teratas saat lebaran tapi paling nyebelin semisal: Kapan wisuda dan Kapan kawin.  Atau, sebut saja.. pertanyaan-pertanyaan lain tentang apa yang kita lakukan.  Baca lebih lanjut

Iklan

Baby G: Water Birth (Part 3)

Lanjutan dari part 1 dan 2:

Water Birth

Persalinan di air merupakan keinginan ku yang dipendam lama, sebelum aku mengenal esensinya, Gentle birth. Ketika di awal kehamilan aku berdiskusi dengan ibu mengenai waterbirth, esoknya ibu membelikanku majalah berisi berita tentang wafatnya bayi yang dilahirkan secara waterbirth. Ah..kematian toh bisa terjadi di mana saja, pikirku. Dengan cara apa saja.  Baca lebih lanjut

Baby G Part 2

Awal kehamilan kuceritakan di sini, lanjutannya ini:

Hari hari kulalui dengan menyiapkan diri untuk persalinan, menyiapkan birth plan dan sebagainya. Belum terpikir saat itu untuk melahirkan dengan provider yang Gentle. Rencana kami memang melahirkan di RS yang berjarak hanya 15 menit dari rumah, dengan Dsog yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Alhamdulillah informasi bahwa beliau sabar dan terutama pro normal menguatkan keyakinan untuk melahirkan di sana. Namun aku mulai khawatir akan prosedur rumah sakit, karena banyak dari list birth plan  ku rasanya sulit tercapai jika nantinya aku melahirkan di sana.  Baca lebih lanjut

IBU BEKERJA bukan vs IBU RUMAH TANGGA

Ibu bekerja dan Ibu di rumah harus saling menguatkan. Telisik ke dalam diri masing-masing untuk niat dalam memilih peran. Ibu bekerja pun, harus mampu memilih skala prioritas bila terjadi benturan dari 3 sektor amanahnya: domestik (keluarga), publik (pekerjaan) dan sektor langit (bekal agama). Dua yang utama adalah sektor langit dan sektor domestik, sedangkan yang satu, sektor publik, sejatinya hanya pilihan, opsional, yang tidak boleh mengorbankan dua sektor sebelumnya.

Bismillah.. jalankan saja peranmu 😉

berbagi cinta & makna

Ini merupakan tulisan yang sudah lama saya rencanakan, tapi tertunda terus karena berbagai kesibukan. Tulisan yang lahir karena saya miris dengan saling tuding-menuding. Ini paling baik, itu tidak! Padahal keduanya adalah pilihan.

Sebelum masuk ke hal yang lebih serius, mari sejenak bayangkan dunia ini tanpa ibu-ibu yang mau bekerja di sektor publik. Nggak ada dokter kandungan perempuan, yang ada laki-laki atau dokter yang masih gadis. Nggak ada ibu guru, yang ada pak guru atau bu guru yang masih muda-muda. Nggak ada pembantu rumah tangga perempuan (yang sekedar menyuci nyetrika lalu pulang), karena mereka rerata juga adalah ibu. Nggak ada pedagang perempuan, kecuali yang masih gadis-gadis seusia SPG-SPG itu. Nggak ada psikolog perempuan, konsulnya dengan bapak-bapak psikolog aja. Nggak ada bidan perempuan yang senior, melahirkan pun dengan bidan muda yang baru lulus, atau dokter SpOG yang laki-laki.

Ini memang ekstrim banget ya. Sampai ada yang gemes bilang ke saya, “Sekalian…

Lihat pos aslinya 2.233 kata lagi