Baby G: Water Birth (Part 3)

Lanjutan dari part 1 dan 2:

Water Birth

Persalinan di air merupakan keinginan ku yang dipendam lama, sebelum aku mengenal esensinya, Gentle birth. Ketika di awal kehamilan aku berdiskusi dengan ibu mengenai waterbirth, esoknya ibu membelikanku majalah berisi berita tentang wafatnya bayi yang dilahirkan secara waterbirth. Ah..kematian toh bisa terjadi di mana saja, pikirku. Dengan cara apa saja. 

Aku baru berjumpa dengan bidan Yuliana pada usia kehamilan 39w, saat itu seperti hari hari biasa aku membaca dokumen dokumen GBUS, kucari nakes pro GB yang terdekat dari daerahku karena kukira selama ini nakes pro GB hanya di klaten dan daerah jawa lainnya. Olala..ternyata ada seorang bidan gentle di dekat rumah ibuku, langsung kukontak beliau. Tadinya aku hanya berkonsultasi via inbox facebook, karena kupikir memang dekat dengan rumah ibuku di bekasi, namun jauuh dari home stay ku saat ini dengan kondisi kakiku yang bengkak dan sakit diajak jalan. Namun jawaban bidan yuli, “hayo katanya mau kasih persalinan terindah buat dede, masa cipinang aja nyerah, yang BSD aja bisa ke sini”..hoalah aku langsung semangat 89! Membuat janji, beruntung beliau dengan ramah menyambut dan menyilakan aku ke sana. Kukontak kakakku, beliau bersedia mengantar jemput karena suamiku sedang bekerja. Langsung paginya kami ke sana. Jauh memang, dan membuat kakakku menyangsikan aku untuk melahirkan di sana. Hehe..

Sesampainya di sana, setelah aku mengisi alat ukur distress, bidan Yuli memeriksa janinku, posisi bagus sudah di bawah. Di ruangan bermandikan lilin aromaterapi yang menenangkan, aku mengikuti relaksasi di kelas hypnobirthing. Saat relaksasi kami juga mengajak bicara dede Ghazy. Kami merayunya agar terus turun ke bawah dan  melepaskan lilitan (hasil usg ada satu lilitan di leher). Setelah melakukan pelvic rocking, dan minum jus nanas, suami menghubungiku. Kuceritakan bahwa aku nyaman di sini. Suami pun membolehkan aku melahirkan di sana, meski belum tau apakah hanya hypnobirth atau dengan waterbirth pula. Sore ketika kelas selesai, setelah melaksanakan shalat magrib di rumah Ibu, kakak menemaniku membeli birthing ball kemudian mengantarku kembali ke rumah.

Malamnya, handphone ku masih terus bergetar. Seperti biasa, saudara saudara, teman teman menanyakan kapan aku melahirkan, apakah sudah melahirkan, dan seterusnya. Saat itu padahal aku masih di usia kehamilan 39 minggu. Aku menyadari cinta orang orang sekitarku, yang mengkhawatirkanku jangan sampai lewat HPL. Hal ini mungkin juga terjadi karena ibu pernah melahirkan di usia kandungan lewat HPL (aku tidak berapa minggu, orang bilang sudah 10 bulan) dan bayinya meninggal ketika lahir. Saat itu memang ibu tidak menyadari bahwa sudah terjadi ketuban pecah dini.

Kembali ke isi handphoneku. Beberapa pertanyaan yang masuk bernada mengkhawatirkan, mungkin memang pandangan kebanyakan orang bahwa melahirkan itu mengerikan. Kadang afirmasi positif, keyakinan bahwa melahirkan alami itu nikmat dan menyenangkan rasanya dimentahkan. Di pertemuan berikut bersama suami, bidan yuli  mengatakan, “jangan sampai kita berpikir melahirkan itu meregang nyawa, karena kalau begitu pasti adaa aja kejadiannya”.

Kuceritakan pada Ibu via telepon mengenai kelas yang kuikuti di bidan. Mendengarnya, Ibu kembali meyakinkanku untuk melahirkan di dokter saja, di Rumah Sakit. Aku mengiyakan..aku iseng bertanya kembali, “kalo waterbirth gimana bu?” “udah ga usah, nanti bayinya tersedak..” aku tersenyum. Ibuku saat itu sedang berada di luar kota, sehingga sulit bagiku berdiskusi panjang apalagi memperlihatkan video waterbirth.

Aku juga menceritakan perjalananku ke bidan di bekasi pagi ini pada mama mertuaku. Sembari menonton sebuah talkshow, aku menanyakan mama mertua ku, “kalo lahiran di air gimana ma?” “kalo bisa jangan lah di air, ga biasa kita itu” ujar mama. Aku tak bicara lebih lanjut. kebetulan saat itu narasumber di televise –seorang bule yang menikah dengan pria bali, menceritakan bahwa ke7 anaknya semua dilahirkan secara waterbirth. Hehe..namun diskusi tak berlanjut.

Semangat ku  rasanya runtuh karena aku merasa berjuang sendiri. Setiap malam ketika membuka GBUS aku menceritakan pada suamiku. Tapi mungkin karena topik pembicaraanku random, suamiku sulit memahami. Hehe..maklum aku bingung harus memulai dari mana. Aku juga kasihan karena suamiku sudah lelah sepulang bekerja.

Malam itu aku memposting tulisan di GBUS. Aku meminta doa dan dukungan untuk melahirkan normal, share cerita mengenai nikmatnya kelas dan bertanya pula bagaimana cara memberdayakan keluarga setelah kita memberdayakan diri? Maklum aku lagi galau berat saat itu. Aku merasa terhibur dengan lomba “merayu keluarga” yang sudah lama diupload mbak Dyah Pratitasari. Dan ternyata….suamiku yang jarang membuka GBUS ikut membaca postinganku. Hehe..jadilah suami mengetahui keinginanku untuk melahirkan di bidan, di bekasi, dan dengan metode waterbirth. Kaget juga, baru ingat kalau aku sudah menginvite suami di GBUS sejak lama. Hehe..

“sebenernya bukan ga boleh melahirkan di bekasi, tapi tadinya abang kira rencana kita sudah final. Melahirkan di RS dekat rumah, jadi kalo abang kerja pun adek dan mama bisa jalan duluan ke RS kalo sudah ada tanda flek atau kontraksi…ya sudah melahirkan di bidan boleh, tambun ya…tapi mesti dipikirin macetnya juga, apalagi masih arus mudik..besok mau relaksasi ke bidan yuli? Abang anterin ya?” oh honey, makin cintaa…aku dan suami kemudian membuat plan A dan plan B tempat dan jalur evakuasi melahirkan. suami mencarikan video video unassisted birth dan menyatakan siap jika ia tangan pertama yang memegang Ghazy ketika lahir. dua hari kemudian aku mengikuti kelas relaksasi bersama suami, dilanjutkan meditasi dan idiomotor saat suami shalat jumat. Seusai relaksasi aku menyadari mungkin aku masih belum siap untuk melahirkan, dan masih menyimpan trauma dari kegagalan ibuku.

Hari hari penantian kelahiran Baby G kami jalani dengan tenang, aku dan suami berusaha makin rileks dan melakukan berbagai induksi alami. Relaksasi dengan CD panduan bu Lanny kuswandi, nonton ke bioskop (bumil dengan perut gede bonceng motor gede..hehe), makan bebek Madura, hunting nanas dan kadang duren (jika beruntung), goyang inul di birthing ball (kugunakan juga setiap duduk, sekalian menghilangkan pegal punggung dan pinggang.hehe), jongkok berdiri, senam kegel bersama suami serta pacaran lagi sama suami.

40 w 4d, aku melakukan kontrol rutin ke RS. Dsog ku terkejut, “oh belum melahirkan? saya kira udah melahirkan di tempat lain. Ya sudah kita cek ya…ketuban masih bagus..berat badan janin pekan lalu berapa? 2,9 ya.. ya ga terlalu jauh..sekarang juga sekitar itu..ga usah gede gede biar bisa lahiran normal..tapi coba rekam jantung bayi ya,,ke atas. Kalo bagus boleh pulang..selasa tanggal 28 agustus balik lagi, ya..” kami pun melakukan rekam jantung bayi yang dilakukan selama 20 menit. Hasilnya jantung bagus meskipun ada deselerasi karena ada lilitan tali pusar, dan gerakannya aktif. Kami pun diperbolehkan pulang. Sepulang dari RS, dokter menelepon ibu meminta izin melakukan induksi jika memang tanggal 28 aku belum juga melahirkan. “ya sudah turuti aja kata dokter ya sayang, kalo induksi ya induksi, kalo perlu Caesar ya caesar..khawatir bayinya keracunan ketuban” ujar ibuku. “insyaallah ketubannya masih bagus bu, ibu dukung ayu melahirkan normal ya? Dukung ayu ya? Kata ibu ayu harus rileks, ayu jadi ga rileks,  ga tenang kalo terus ditanya kapan melahirkan, malah disuruh induksi atau Caesar..memang belum waktunya Ghazy lahir bu..” ibuku akhirnya mengiyakan,,”iya ibu dukung ayu sepenuhnya melahirkan normal..di bidan juga ga papa” Alhamdulillah.

Malamnya, seorang significant other bagiku menelepon bertanya dengan nada marah, “mana nih belum ada kabar lahiran? Katanya udah mau melahirkan? Ibu sampe bela belain pulang ke Bekasi karena kamu mau lahiran, eh tapi sampe sekarang belum” lha..pikirku. mana aku tahu kapan aku lahiran? Tiba tiba terasa air merembes dari ujung mataku. “Melahirkan itu kehendak Allah. Allah yang paling tau waktu yang terbaik. Hari Perkiraan Lahir kan cuma perkiraan manusia” ujarku lirih. Setelahnya aku benar benar menangis sesenggukan, sembari berdoa, dan bicara pada Ghazy, “ghazy yang sholeh, ayo bantu umi ya sayang,..Umi percaya kita tim yang hebat nak,,bantu Umi ya? Terus turun ke bawah nak, jika sudah tiba waktunya, kirim gelombang cinta yang kuat ya sayang,, cari pintunya, buka pintunya dengan kepalamu..”. aku benar benar pasrah total saat itu. Aku menyadari mungkin selama ini aku lupa untuk benar benar tawakkal pada Allah. Setelah menenangkan diri, aku menghubungi bidan Yuli membuat janji.

Esoknya, bidan Yuli memeriksa posisi de Ghazy, olala..ternyata posisi kepalanya belum pas. memang kepala sudah di bawah, sudah engage dan hodge 1, tapi posisi mendongak..”pantas aja dede ga turun turun..” ujar bidan Yuli. saat relaksasi, kami pun kembali merayu de Ghazy untuk memperbaiki posisinya, juga dengan bantuan paraji untuk memperbaiki posisi de Ghazy. Saat melakukan belly dance aku merasa dede benar benar turun ke bawah ke kanan dan kekiri, rasanya nikmat di panggul. alhamdulillah, seusai kelas, ketika diperiksa kembali, posisi Ghazy sudah bagus! sesampai di rumah, aku mempraktekkan belly dance dan terus melakukan goyang inul dibantu suami. malamnya aku benar benar memasrahkan diri pada Allah, besok tanggal 28 agustus 2012 adalah hari ‘deadline’ yang diberikan dokter.

(masih bersambung)

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Baby G: Water Birth (Part 3)

  1. Ping balik: Baby G Part 2 | Positive Psychology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s