Gara-Gara Wonderful Life

(Judul lain dari Si Enam Huruf yang Selalu Seksi dan Anak Istimewa)

“Tidak ada yang salah dengan anak Ibu,  Semua anak terlahir sempurna” (Wonderful Life, 2016)

Siang ini,, saya membuka-buka file video di gawai, menyaring video mana yang perlu disimpan dan yang perlu dihapus, supaya memorinya ga kepenuhan. Saya menonton video satu-satu, hingga sampai ke salah satu video berupa thriller sebuah film yang pernah ramai di linimasa FB. Oya, Film ini sudah tayang per 13 oktober kemarin, berjudul “Wonderful Life”.  Video ini dikirimkan oleh salah seorang sahabat saya, dan entah bagaimana, baru thrillernya saja Film ini sudah sukses mengaduk emosi saya. Baca lebih lanjut

Ketika Berpulang

Kemarin.. Ayah saya mengirimi cucunya sejumlah transferan tanda cinta,, dan saya mengucapkan terimakasih yang tulus atas perhatiannya. Ayahpun mengulukkan sebait doa yang indah, untuk keluarga kecil kami.. aku terharu. Antara sadar dan tidak jemariku mengetik doa pula.. berharap beliau membacanya lalu malaikat mengaminkan..

Doaku,, Ya Allah,, walaupun kami terpisah di dunia,, persatukanlah kami bersama,, semuanya,, di jannah-SyurgaMu yang tertinggi.. bersama para Nabi dan Syuhada,,

Mungkin tak banyak kisah bersama Ayah yang melekat,, tapi sepenuh keyakinanku,, doanya terus menembus langit hingga anak-anaknya bisa berhasil. Pasti.

Ah.. Aku teringat Ayah setelah membaca tulisan Mba Indra Fath ini:

 

Just My ABCs

snow-flower

Bismillah.

Membaca What You Learn After Losing A Parent At A Young Age mengingatkan saya pada peristiwa 8 tahun silam, saat ayah saya berpulang. Tidak ada rasa terkejut, tidak pula rasa sakit di saat kejadian. Saya menemani beliau dalam sakitnya selama 7 tahun, suatu rentang waktu yang tidak sebentar untuk menjadi lumpuh, tak dapat  bicara, tak bisa berjalan, hingga tergeletak begitu saja tanpa daya di tempat tidur. Saya yang mendampingi beliau untuk berbagai hal : menyuapinya, memandikannya, beristinja’, menemaninya sholat dalam lafadz yang masih saja fasih didengar, mengajaknya bercerita meski tak 100 % ia tangkap, tertawa, memeluk tubuhnya, dan sebagainya. Dan Mamah, tentu saja terlebih-lebih lagi.

Di hari terakhirnya, saya berlari-lari mencarikan obat karena kondisi Bapak kian memayah. Jam menunjukkan pukul 17.30 saat itu, dan sepulang kerja saya mempercepat langkah agar bisa mencapai maghrib di rumah. Lalu saya melakukan aktivitas seperti biasa : shalat, bebersih, makan malam, dan menemani Bapak…

Lihat pos aslinya 620 kata lagi