Baby G (Habis)

Pagi ini saya membaca tulisan teman yang sedang khawatir karena mulas tak kunjung datang. Dia bertanya di FB maupun Instagram mengenai induksi alami. Tiba-tiba saya teringat akan tulisan lawas 4,5 tahun lalu di sebuah grup persalinan alami (Gentle Birth Untuk Semua). Tulisan yang jadi rangkuman, sebagiannya agak saya sesalkan karena cenderung mengiklankan tenaga kesehatannya bukan pemberdayaan dirinya. Hehe.. tapi tak apalah. Untuk jadi catatan sejarah jika nanti dibuka anak-anakku 🙂

Oya, tulisan tersebut sudah dipindahkan ke blog ini dengan awal dari sini, tapi akhirnya belum selesai dipindah. Silakan nikmati hasil gotongannya:

28 Agustus 2012

Saat terbangun di waktu sahur, aku ke kamar mandi. Subhanallah..bahagia luar biasa karena flek yang kutunggu tunggu muncul juga. Setelah itu, gelombang cinta mulai terasa 20 menit sekali. Kuhitung dan kucatat waktunya. Saat gelombang rahim muncul, kunikmati sembari terus bergoyang di birthing ball. Saat istirahat, kusempatkan untuk posting lagi di GBUS, memohon doa dan dukungan. Suamiku tidak menampakkan kecemasan. Hari itu ia masih masuk kantor, dan memintaku untuk segera menghubungi jika kontraksi sudah 10 menit sekali. Setelah menanti seharian, pukul 15 sore kami berangkat ke Bekasi, bersama ayah mertua dan mama mertua ku. 1,5 jam kemudian kami tiba. Ibu dan kakak ku pun tiba. Keluargaku menggelar tikar dan menyiapkan makanan. Benar benar mengaminkan ucapan mbak Yuli agar menganggap klinik rumah sendiri. Hehe.. Sebagian berjalan jalan hunting makanan untuk berbuka puasa. Aku menyiapkan diri sembari bergoyang di birthing ball. Pukul 1630 ketika dilakukan VT, pembukaan masih 2 jari longgar. Lama juga, pikir kami.

Bidan Yuli menanyakan rencana kelahiranku, karena jika mau waterbirth kolam akan disiapkan. Kubilang di ranjang saja, insyaallah aku siap, mudah mudahan lancar dan normal. Seusai shalat magrib kontraksi kurasa semakin intens, namun ternyata masih 10-15 menit sekali. Lelah bergoyang, aku berbaring ke kiri sembari melakukan relaksasi dipandu bidan Yuli. Setiap kontraksi hadir, bidan melakukan pijat endorphine bergantian dengan suamiku. Ibu dan mama juga membantu memijat ku. Huah..rasanya nyamaannn.. Ketika kontraksi makin intens, aku sudah lupa dengan nafas perut,, hehe..dan berganti dengan nafas diafragma..

VT dilakukan lagi pukul 20.00, hasilnya? masih pembukaan 4. Subhanallah..agaknya aku kurang relaks sehingga kurang mampu mengatur pernafasan. Sudah goyang inul, ganti posisi berbaring, setiap kontraksi aku membayangkan bunga merekah. Saat itu bidan Yuli memintaku untuk tidak gelisah karena dedenya juga gelisah. teori pernafasan perut lupa rasanya ketika aku tidak relaks.. Saat itu aku kembali berusaha melakukan nafas perut agar dede tidak kekurangan oksigen. Kuhirup nafas panjang panjaaaang,,tahan dan huaah..sembari berdikir dan melantunkan doa,, “ya Allah Engkau yang Maha memudahkan, tidak ada yang mudah melainkan apa yang Engkau jadikan mudah..wa anta taj’alulhazna idzaa syi’ta sahlan” ibu dan mama merayuku meminum rumput Fatimah, namun aku menolak halus. Bidan Yuli meminta Ibu menelepon ayahku yang saat itu sedang di luar kota, meminta mendoakan air, dan air tersebut diusapkan ke wajah dan perut ku ke arah bawah..ayah mertua dan kakakku yang berada di luar bersama sama mendoakan.. kenikmatan gelombang cinta makin terasa di atas birthing ball, dengan endorphine massage yang nikmat dari suami, pijatan ibu dan mertua.

Telpon ibu berdering, yang ternyata berasal dari Dsog ku. Ia menanyakan mengapa aku tidak ke RS malam ini. Ibu menjawab aku akan melahirkan di bidan bekasi. pukul 23.30, gelombang cinta makin nikmat..dan ketika di VT kembali, maha besar Allah, pembukaan sudah lengkap! Aku lalu berjalan pindah ke ranjang bersalin, bidan Yuli dan tim menyiapkan peralatan. Suami di sebelahku, memegang tangan dan memijitku. Kontraksi semakin teratur, namun baby G tak juga kunjung muncul. Selaput ketuban muncul dan bidan Yuli meminta izin memecahkannya karena sudah berwarna keruh. “ini ga boleh kalo udah 2 jam ga lahir, “ ujar bidan Yuli. Ditunggu hingga hampir 2 jam, bidan Yuli akhirnya meminta ridho ibu dan mama, jika aku melahirkan di kolam.  Saat itu sudah jam 02.00 malam. Melihat kondisiku yang mulai lelah, , Ibu dan Mama mengizinkan demi keselamatanku. Bidan Yuli dan tim menyiapkan kolam air hangat.

Aku pun masuk ketika kolam sudah siap. Nikmaat rasanya..aku berjongkok sembari bergoyang. Berganti posisi menjadi duduk. Rasanya lebih rileks, dan gelombang cinta makin nikmat, ketika sudah ada rasa akan BAB, aku pun mengejan..bidan, suami, ibu, dan mama terus menyemangatiku. Aku lalu menyentuh kepala baby G yang mulai muncul. Setelah meraba rambutnya, aku semakin semangat. Dengan satu tarikan nafas, Alhamdulillah akhirnya lahirlah Ghazy, sang Pejuang yang dinanti nanti. Setelah keluar dari air, Ghazy menangis dan kudekap dalam pelukan. Suami, ibu dan mama bertakbir dan tak henti bersyukur. Aku berjalan melompati kolam naik ke atas ranjang, untuk melahirkan plasenta dan melakukan inisiasi menyusui dini.  Suami ku mengazankan Ghazy di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri sambil menangis. Ahh..honey..bayi kita..

Ghazy mencari puting susu dengan reflex rooting, dan menghisapnya kuat kuat dengan reflex suckingnya. terdengar riuh rendah keluargaku, “wah sudah ngangkat kepala! wah sudah melek! udah ketemu!” setelah ditimbang, beratnya 3500 gram..wow lumayan jauh dariperkiraan saat USG, 2900 gram. sembari mendekap Ghazy, tak terasa perineum sudah dijahit, dua jahitan (tadinya hall yang paling kukhawatirkan sebelum persalinan adalah jahitan, sehingga aku selalu membuat afirmasi positif bahwa perineumku utuh dan elastis).

kami pulang ke rumah sore hari, karena menunggu 14 jam penundaan pemotongan tali pusar (delayed cord campling). Alhamdulillah, ibu dan mama yang tadinya khawatir dengan persalinan di dalam air, kini begitu semangat bertestimoni betapa aman, alami dan lembutnya persalinan di air. Bahkan saat acara aqiqah Ghazy, ayah mertuaku menceritakan pada semua audiens, detil persalinanku..malu juga sih. hehe

Special thanks for my lovely husband, Irfan Fathoni yang begitu tenang mendampingiku, mendoakan, memijitku, dan merangsang hormone oksitosin ku membuncah..; Tante Bidan Yuli yang luar biasa juga kakak Eyza yang mbuhnya dipinjem semalaman..hehe; Ibu, ayah, mama mertua, ayah mertua atas cinta dan doanya; yurika dan hana sahabat diskusi gentle birth; mami Lanny Kuswandi atas dukungannya; kakak, saudara, sahabat, para bunda atas doa dan dukungannya; mbak Indra Fathiana yang menceburkanku ke grup yang indah ini..Love U all *hugs

Baby G: Gentle, Genious, Ghazy

Part 1

Part 2

Part 3

Ending

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s