ANAK IBU MAU JADI PETINJU?

karate-kid

Karate Kid via avclub.com

Hari ahad 29 Januari 2017 lalu, saya mengorbankan beberapa agenda (yang satu seru, yang satu penting banget yaitu silaturahim keluarga) untuk menghadiri Kuliah Tematik Sekolah Mommee. Kenapa saya mendahulukan ini? karena sadar saya lagi sekolah, walaupun informal. Saya wajib datang kecuali ada alasan syar’i bagi murid untuk tidak datang.

Tema SM hari itu ada 2: “Jangan Bully Aku!” yang dibawakan oleh Pak Novi Hardian, salah satu vokalis Izzatul Islam (dan HRD Sekolah Alam. gitu deeh yg diingetnya Izzis hehe) dan “Menjadi Dokter di Rumah” yang dibawakan seleb dunia maya: dokter Apin (Arifianto, SP.A).

mommee1

Logo Sekolah Mommee dan Program SEMAI

Bersyukur (dan beruntung) sekali saya bs datang kali ini. Tema yang pertama saya datang telat, berusaha menyimak walaupun ngeri2 sedap. Kebanyakan yang dibahas adalah tentang definisi Bullying (atau dalam bahasa lokal kita: perundungan) dan Apa yang kita lakukan untuk mencegah dan mengobati anak kita sebagai KORBAN bullying.

Why ngeri2 sedap? karena saya menganggap anak saya “outlyer” dari anak kebanyakan, saya rasa di sini melulu akan dibahas “menjadi korban” alih-alih “menjadi pelaku”. Tapi akhirnya saya merasa punya teman setelah salah seorang peserta angkat tangan dan menceritakan kisah anak-anaknya!

Anak kembarnya (Laki-laki, Batita) punya ritual khusus ketika menyambut teman-temannya yaitu dengan: MEMUKUL. hehe.. di situ saya merasa punya teman. GUE GA SENDIRI, MAKASIH YA ALLOOH.. walaupun anak saya ga mirip seperti itu, tapi dia juga suka ‘main tangan’. Kadang-kadang. #CiyeeDefenseCiyee

Iya, seperti anak kecil pada umumnya, anak saya belum bisa mengungkapkan emosi secara sempurna dan masih dilatih hingga kini. Beberapa waktu ini levelnya naik. Level bapernya meningkat. Bahkan ditegur atau dinasehati aja baper.. Walaupun, sejujurnya saya sadar sih ada andil gen saya di dalamnya (baper is my middle name, wakakak).

bully1

Anak berteriak via …

Anak saya laki-laki, sangat kinestetik, dan sering mengungkapkan emosinya (biasanya emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, atau gabungan dari marah dan cinta yaitu cemburu) dengan mengancam akan main tangan. Baru ngancem? iya ngancem dulu. Kadang-kadang ga dilakukan, cuma ngancem aja. Pas tau lawan lebih kuat, dia malah nangis. Eh ini bukan lagi ngomongin salah satu penista yang lagi rame minta maaf itu ya. Bukan.

Jadi pernah dia lagi asyik main sama temennya, eh temennya mau pulang, sementara dia masih mau main bareng. Dia kecewa ditinggal main. Mulai deh keluar ancaman: “Haf**h jangan pulang! nanti aku pukul!” dia getok temennya pelan. Eeeeh ndilalah dibales tonjokan tepat ke muka. Jeddeeer.. wakakak nangis deh lanang aye.. sejak itu Abinya mengajarkan cara menonjok yang benar dan setrong. #eh #salahfokus

bully2

Hikmah dari materi 1 dan diskusinya ini adalah:

1. PR pertama dan utama ada di orang tuanya. Ortu harus MENERIMA dulu ‘keunikan’ anak. Accept, alih-alih Deny. Susah lho ini. Berapa banyak Ibu-ibu yang mukanya memerah pas anaknya mukul anak orang? hatinya panas.. kadang malah si anak habis diomelin ibunya di depan orang banyak demi menyelamatkan muka ibu.. “Nakk? siapa yang ngajarin mukul nakk? mama enggaakk lho nakk!” huks. Lalu neneknya melirik tajam ala sinetron. :p

Bu, kalo kata pak Novi.. terimalah KEUNIKAN anakmu, siapa tau suatu hari itu akan menjadi KELEBIHANNYA. Ups, tapi bukan jadi petinju juga ya.. saya inget pernah baper gara-gara ada yang bilang anak saya mau jadi petinju.. wkwkkk (Maaf ya dear, kalo baca ini.. ga baper lagi deh. bener.)

Tapi siapa tau anak kita ke depan akan jadi anak yang kuat memegang prinsip, tidak mudah menyerah, jago membela diri dan orang lemah, Mukmin yang kuat fisik bahkan lebih dicintai Allah. Insyaallah.. asal diarahkan pada tempatnya.

2. Kemudian ajarkan anak EMPATI. Kakak.. gimana rasanya kalo dipukul Nak? sakit, Bu. Nah.. begitu juga yang dirasakan teman kakak.. kasian kan teman kakak jadi sakit karena dipukul. Btw saya kemarin kasih liat video anak yang menangis karena liat ibunya motong ikan. Well, anak saya ikut sedih.. Β Β Yakinilah, empati itu fitrah.

3. Biasakan anak MINTA MAAF, dan kasih REWARD kalo anak bersedia minta maaf (Good job!) dan tidak mengulangi perbuatannya. Kalo perlu peluk. Fase ini sudah lumayan lama saya lewatin, dan diulang-ulang terus. Maha besar Allah, anak saya sudah merasa bersalah sendiri ketika dia ‘refleks’ melukai orang lain, biasanya Umminya. Dia langsung menampakkan muka bersalah, dan menyodorkan tangan sembari berkata lirih: “Maaf ya… tadi aku salah”. Entah karena merasa salah atau khawatir diomelin.. hehe.. tapi sungguh deh permintaan maaf dari mereka itu tulus, bikin nyess hati dan sakit berangsur sirna, menyisakan hati yang hangat.

Oya, kalo anak belum mau minta maaf walau sudah diajarkan terus menerus, jangan patah semangat. Anak seperti sponge. Ga sekarang insya allah nanti perilaku baik itu akan keluar. Sering kasih contoh biar difotokopi. Untuk sementara ya.. orang tua dulu yang “memintakan maaf” anak ke korban atau walinya. Bukaaan.. bukan tentang penista lagi. bener deh.

4. Biasakan anak memberi nama emosinya, dan Ibu… jangan lelah mengajarkan anak bagaimana menyalurkan emosi ya.. (entah dia bahagia, takut, kaget, jijik, sedih, kecewa, marah, cemburu). Dia punya saluran emosi yaitu: KATA-KATA. Rasa marah misalnya, dapat disampaikan terlebih dahulu dengan kata, bukan langsung dengan melambaikan tangan mengepal. Cukup salam dengan tangan terbuka Ala Bung Karno. #Eh Ajarkan anak menyampaikan apa yang dirasakan.

5. Kadang anak juga butuh WAKTU. Dahulu saya suka nanya2in dia pas dia masih marah. Tapi skrg saya belajar kalo dia butuh dikasih waktu. Misal dia lagi nangis biarin aja dulu. Sampai reda. Ketika tenang baru ditanya, apa perasaannya? tadi kenapa? Lha kita juga gitu kan.. pengennya nangis dikeluarin dulu sampe mata sembab. heu.. dialirin dulu rasanya, diabisin dulu stoknya..ini berlaku tak memandang jenis kelamin ya. Jangan cegah anak laki-laki kita menangis, misal: “JANGAN NANGIS! Ingat kamu itu LAKI LAKI. Jangan cengeng!” duh, kasian ya jadi laki-laki kalo ga boleh nangis. Rasulullah s.a.w aja nangis kok, walaupun dengan alasan2 yang luar biasa ya bukan remeh macam sebagian kita.

6. SOP Bila anak marah pun perlahan diterapkan: dekati anak, ajak pegang dada sambil istighfar, tarik nafas, kalo berdiri ajak duduk, dia lagi marah duduk ajak berbaring.. efektif juga dengan berwudhu pada akhirnya, sesuai sunnah Rasulullah saw sang teladan.

Ketika saya menerapkan ini, alhamdulillah. Durasi marahnya lebih singkat. Dia jadi lebih cepat tenang, dan menyampaikan apa yang dirasakan. Klo terulang lagi, SOP ulangi lagi.

Bismillah.

#FitrahBerteman
#FitrahEmpati
#StopPerundungan
#MulaiDariRumah
#NTMSLhoIni
#WritingIsHealing
#SaluranEmosi
#BiarGaMampet

P.S: Sekolah Mommee 1 akan berakhir, doakan nanti bisa dilaksanakan lagi ya.

mommee2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s