Kita Tipe Orang Tua yang Mana? (Resume Buku part2)

Masih rangkaian resume dari buku Gantungkan Cambuk di Rumahmu, Pola mendidik orang tua ada 3:

  • Tipe Militer. Karakter ortunya biasanya Otoriter (ingin mengatur & menguasai anak berlebihan), Over-Protektif (selalu memenuhi permintaan anak, tapi banyak melarang aktivitas karena khawatir berlebihan), atau Keras dan Galak (kebiasaan mengancam dan memaksa anak biar nurut, dan suka ngasih hukuman fisik).

Efek samping tipe ini: Anak merasa tertekan karena paksaan-ancaman-hukuman, sehingga tidak merasa bahagia. Anak juga cenderung bersikap reaktif, tidak kreatif dan proaktif, karena mereka ga punya kebebasan dalam membuat keputusan sendiri. Output yang dikhawatirkan adalah anak jadi penakut dan pembangkang.

  • Tipe Permisif. Karakter ortunya biasanya Suka Memanjakan Anak (sangat terbuka, longgar, anak mau apa diturutin, biasanya ga pernah menegur/ menghukum anak), Ortu Cuek (Membiarkan anak tumbuh dengan sendirinya tanpa pendidikan keluarga, tanpa cinta kasih Orang tua, hiks huhuuu nulisnya kok sedih amaaat.. Ga pernah memuji atau ngasih hadiah ke anak kalo anak melakukan kebaikan atau prestasi dan sebaliknya juga ga pernah menegur. Kalem aja.), atau Ortu yang lemah dan ga punya pendirian (sikap ga konsisten, kadang larang kadang boleh  buat 1 perilaku yang sama. Cenderung lari dari masalah).

Efek samping tipe ini: anak jadi ga jelas. Ga ada kontrol bikin di anak lebih agresif, suka memberontak dan berbuat bebas sesuai keinginan. Emosi ga stabil dan meledak-ledak, sedangkan orang tua ga lagi dianggap sebagai sosok yang punya peran dan teladan baginya. Dan kalopun dia sukses, dia ngerasa itu semua hasil dari dirinya sendiri. Hidup tanpa aturan gitu –duh, kok jd inget sama slogan adek2 punk–

  • Tipe Komunikatif. Ibarat Nabi Ibrahim, yang nanya dulu ke anaknya pas dapet wahyu: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”(Qs. Ashshaaffat:102).. Ortu tipe ini mengedepankan komunikasi dua arah antara ortu dan anak. Walaupun anak masih kecil, ga ada salahnya kalo anak dibiasakan untuk selalu diajak berkomunikasi 2 arah.

Sebelum anak dibebani dengan aturan tertentu, orang tua terlebih dahulu kaish briefing penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Terus ortu bisa tanya, bagaimana pendapat si anak? so Ortu bisa menyampaikan sesuatu ke anak sekaligus tahu isi hati anak, tanpa harus pake cara pemaksaan dan kekerasan.

Efek dari tipe ini adalah, anak akan bersikap terbuka kepada Orang Tua, sehingga setiap masalah segera dicari solusinya. Ortu juga lebih mudah kasih arahan dan nasihat. Hubungan ortu-anak pun insyaallah terjalin dengan prinsip saling menghormati dan berkasih sayang.

Jadi kalo anak ada kesalahan, anak ga dibiarkan begit saja dan juga ga langsung dikaish hukuman yang bikin efek jera. Tapi ortiu tegur dulu tindakan mana yang salah, secara baik-baik. Hukuman hanya diberikan kalo sudah melalui tahap2 dinasihati/ ditegur, tapi masih diulangi dengan sengaja, maka anak layak mendapat hukuman bersifat mendidik.

Akhirnya.. pendidikan kedisiplinan dalam Islam itu penting, karena outputnya anak jadi muslim yang kuat. Kuat aqidah, ilmu, akhlak, dsb. Bukankah Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah (walaupun pada keduanya ada kebaikan)? (HR. Muslim)

Hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang apabila meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadapnya. Oleh sebab itu, hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaknya mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (Annisa 4:9)

Iklan

ANAK IBU MAU JADI PETINJU?

karate-kid

Karate Kid via avclub.com

Hari ahad 29 Januari 2017 lalu, saya mengorbankan beberapa agenda (yang satu seru, yang satu penting banget yaitu silaturahim keluarga) untuk menghadiri Kuliah Tematik Sekolah Mommee. Kenapa saya mendahulukan ini? karena sadar saya lagi sekolah, walaupun informal. Saya wajib datang kecuali ada alasan syar’i bagi murid untuk tidak datang.

Tema SM hari itu ada 2: “Jangan Bully Aku!” yang dibawakan oleh Pak Novi Hardian, salah satu vokalis Izzatul Islam (dan HRD Sekolah Alam. gitu deeh yg diingetnya Izzis hehe) dan “Menjadi Dokter di Rumah” yang dibawakan seleb dunia maya: dokter Apin (Arifianto, SP.A).

mommee1

Logo Sekolah Mommee dan Program SEMAI

Bersyukur (dan beruntung) sekali saya bs datang kali ini. Tema yang pertama saya datang telat, berusaha menyimak walaupun ngeri2 sedap. Kebanyakan yang dibahas adalah tentang definisi Bullying (atau dalam bahasa lokal kita: perundungan) dan Apa yang kita lakukan untuk mencegah dan mengobati anak kita sebagai KORBAN bullying.

Why ngeri2 sedap? karena saya menganggap anak saya “outlyer” dari anak kebanyakan, saya rasa di sini melulu akan dibahas “menjadi korban” alih-alih “menjadi pelaku”. Tapi akhirnya saya merasa punya teman setelah salah seorang peserta angkat tangan dan menceritakan kisah anak-anaknya!

Anak kembarnya (Laki-laki, Batita) punya ritual khusus ketika menyambut teman-temannya yaitu dengan: MEMUKUL. hehe.. di situ saya merasa punya teman. GUE GA SENDIRI, MAKASIH YA ALLOOH.. walaupun anak saya ga mirip seperti itu, tapi dia juga suka ‘main tangan’. Kadang-kadang. #CiyeeDefenseCiyee

Iya, seperti anak kecil pada umumnya, anak saya belum bisa mengungkapkan emosi secara sempurna dan masih dilatih hingga kini. Beberapa waktu ini levelnya naik. Level bapernya meningkat. Bahkan ditegur atau dinasehati aja baper.. Walaupun, sejujurnya saya sadar sih ada andil gen saya di dalamnya (baper is my middle name, wakakak).

bully1

Anak berteriak via …

Anak saya laki-laki, sangat kinestetik, dan sering mengungkapkan emosinya (biasanya emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, atau gabungan dari marah dan cinta yaitu cemburu) dengan mengancam akan main tangan. Baru ngancem? iya ngancem dulu. Kadang-kadang ga dilakukan, cuma ngancem aja. Pas tau lawan lebih kuat, dia malah nangis. Eh ini bukan lagi ngomongin salah satu penista yang lagi rame minta maaf itu ya. Bukan.

Jadi pernah dia lagi asyik main sama temennya, eh temennya mau pulang, sementara dia masih mau main bareng. Dia kecewa ditinggal main. Mulai deh keluar ancaman: “Haf**h jangan pulang! nanti aku pukul!” dia getok temennya pelan. Eeeeh ndilalah dibales tonjokan tepat ke muka. Jeddeeer.. wakakak nangis deh lanang aye.. sejak itu Abinya mengajarkan cara menonjok yang benar dan setrong. #eh #salahfokus

bully2

Hikmah dari materi 1 dan diskusinya ini adalah:

1. PR pertama dan utama ada di orang tuanya. Ortu harus MENERIMA dulu ‘keunikan’ anak. Accept, alih-alih Deny. Susah lho ini. Berapa banyak Ibu-ibu yang mukanya memerah pas anaknya mukul anak orang? hatinya panas.. kadang malah si anak habis diomelin ibunya di depan orang banyak demi menyelamatkan muka ibu.. “Nakk? siapa yang ngajarin mukul nakk? mama enggaakk lho nakk!” huks. Lalu neneknya melirik tajam ala sinetron. :p

Bu, kalo kata pak Novi.. terimalah KEUNIKAN anakmu, siapa tau suatu hari itu akan menjadi KELEBIHANNYA. Ups, tapi bukan jadi petinju juga ya.. saya inget pernah baper gara-gara ada yang bilang anak saya mau jadi petinju.. wkwkkk (Maaf ya dear, kalo baca ini.. ga baper lagi deh. bener.)

Tapi siapa tau anak kita ke depan akan jadi anak yang kuat memegang prinsip, tidak mudah menyerah, jago membela diri dan orang lemah, Mukmin yang kuat fisik bahkan lebih dicintai Allah. Insyaallah.. asal diarahkan pada tempatnya.

2. Kemudian ajarkan anak EMPATI. Kakak.. gimana rasanya kalo dipukul Nak? sakit, Bu. Nah.. begitu juga yang dirasakan teman kakak.. kasian kan teman kakak jadi sakit karena dipukul. Btw saya kemarin kasih liat video anak yang menangis karena liat ibunya motong ikan. Well, anak saya ikut sedih..   Yakinilah, empati itu fitrah.

3. Biasakan anak MINTA MAAF, dan kasih REWARD kalo anak bersedia minta maaf (Good job!) dan tidak mengulangi perbuatannya. Kalo perlu peluk. Fase ini sudah lumayan lama saya lewatin, dan diulang-ulang terus. Maha besar Allah, anak saya sudah merasa bersalah sendiri ketika dia ‘refleks’ melukai orang lain, biasanya Umminya. Dia langsung menampakkan muka bersalah, dan menyodorkan tangan sembari berkata lirih: “Maaf ya… tadi aku salah”. Entah karena merasa salah atau khawatir diomelin.. hehe.. tapi sungguh deh permintaan maaf dari mereka itu tulus, bikin nyess hati dan sakit berangsur sirna, menyisakan hati yang hangat.

Oya, kalo anak belum mau minta maaf walau sudah diajarkan terus menerus, jangan patah semangat. Anak seperti sponge. Ga sekarang insya allah nanti perilaku baik itu akan keluar. Sering kasih contoh biar difotokopi. Untuk sementara ya.. orang tua dulu yang “memintakan maaf” anak ke korban atau walinya. Bukaaan.. bukan tentang penista lagi. bener deh.

4. Biasakan anak memberi nama emosinya, dan Ibu… jangan lelah mengajarkan anak bagaimana menyalurkan emosi ya.. (entah dia bahagia, takut, kaget, jijik, sedih, kecewa, marah, cemburu). Dia punya saluran emosi yaitu: KATA-KATA. Rasa marah misalnya, dapat disampaikan terlebih dahulu dengan kata, bukan langsung dengan melambaikan tangan mengepal. Cukup salam dengan tangan terbuka Ala Bung Karno. #Eh Ajarkan anak menyampaikan apa yang dirasakan.

5. Kadang anak juga butuh WAKTU. Dahulu saya suka nanya2in dia pas dia masih marah. Tapi skrg saya belajar kalo dia butuh dikasih waktu. Misal dia lagi nangis biarin aja dulu. Sampai reda. Ketika tenang baru ditanya, apa perasaannya? tadi kenapa? Lha kita juga gitu kan.. pengennya nangis dikeluarin dulu sampe mata sembab. heu.. dialirin dulu rasanya, diabisin dulu stoknya..ini berlaku tak memandang jenis kelamin ya. Jangan cegah anak laki-laki kita menangis, misal: “JANGAN NANGIS! Ingat kamu itu LAKI LAKI. Jangan cengeng!” duh, kasian ya jadi laki-laki kalo ga boleh nangis. Rasulullah s.a.w aja nangis kok, walaupun dengan alasan2 yang luar biasa ya bukan remeh macam sebagian kita.

6. SOP Bila anak marah pun perlahan diterapkan: dekati anak, ajak pegang dada sambil istighfar, tarik nafas, kalo berdiri ajak duduk, dia lagi marah duduk ajak berbaring.. efektif juga dengan berwudhu pada akhirnya, sesuai sunnah Rasulullah saw sang teladan.

Ketika saya menerapkan ini, alhamdulillah. Durasi marahnya lebih singkat. Dia jadi lebih cepat tenang, dan menyampaikan apa yang dirasakan. Klo terulang lagi, SOP ulangi lagi.

Bismillah.

#FitrahBerteman
#FitrahEmpati
#StopPerundungan
#MulaiDariRumah
#NTMSLhoIni
#WritingIsHealing
#SaluranEmosi
#BiarGaMampet

P.S: Sekolah Mommee 1 akan berakhir, doakan nanti bisa dilaksanakan lagi ya.

mommee2

tentang abang Taqiy dan baby Aozora

Indah sekali masyaallah 🙂

Cerita Si Bolabekel

Dear baby Aozora,

Assalamualaikum, sayang…

Sudah malam begini, kamu masih aktif aja di dalam situ. Sedang apa, Nak? Atau justru sedang protes ya karena Bunda belum juga bobo? Hehehe, maaf ya, sayang… Abi pulang lumayan malam hari ini. Pukul 9. Nah, kamu tau sendiri kan, meski pulang semalam apa pun, Abangmu tetap akan minta jatah bermain dengan Abi, paling tidak selama satu jam. Dan Bunda gak mungkin ninggalin Abang Taqiy bersama Abi yang sudah lelah di kantor seharian berdua aja. Meskipun Abi pasti rela sekali membiarkan Bunda tidur duluan. Tapi, kan kasihan Abi kamu…

Sekarang, Abangmu baru saja pulas tertidur, di samping Bunda. Abangmu memang masih belum bisa tidur di kamar sendirian, masih harus ditemani. Tapi, Abang mau lho pindah ke kamar sendiri kalo kamu nanti sudah lahir, sayang…
“Taqiy di kasur, baby di boks.”
Begitu katanya.

Baby Aozora sayang,
Tahukah kamu betapa Abangmu sangat menyayangi kamu? Bahkan jadi orang…

Lihat pos aslinya 1.251 kata lagi

You Bake My Day!

Hari sabtu dan ahad adalah hari favoritku dalam sepekan, karena banyak waktu main bareng kakak pastinya.. Beberapa waktu ini dia nagih banget mainin tepung jadi playdough, seperti yang dia bikin pas umminya kerja. Dulu sih iya ummi yg ngajarin, jadi nyai juga ikut bikin. Aman sih.. tapi sekarang.. dia kan udah gede ya udah paham mana mainan mana makanan. Umminya juga udah insyaf ga lagi-lagi mainin bahan makanan,, udah ada fatwanya deuuu……#istighfar #terusingetsodaradiSuriah #Palestina #Rohingya..#susahnelen. Baca lebih lanjut

Ketika Berpulang

Kemarin.. Ayah saya mengirimi cucunya sejumlah transferan tanda cinta,, dan saya mengucapkan terimakasih yang tulus atas perhatiannya. Ayahpun mengulukkan sebait doa yang indah, untuk keluarga kecil kami.. aku terharu. Antara sadar dan tidak jemariku mengetik doa pula.. berharap beliau membacanya lalu malaikat mengaminkan..

Doaku,, Ya Allah,, walaupun kami terpisah di dunia,, persatukanlah kami bersama,, semuanya,, di jannah-SyurgaMu yang tertinggi.. bersama para Nabi dan Syuhada,,

Mungkin tak banyak kisah bersama Ayah yang melekat,, tapi sepenuh keyakinanku,, doanya terus menembus langit hingga anak-anaknya bisa berhasil. Pasti.

Ah.. Aku teringat Ayah setelah membaca tulisan Mba Indra Fath ini:

 

Just My ABCs

snow-flower

Bismillah.

Membaca What You Learn After Losing A Parent At A Young Age mengingatkan saya pada peristiwa 8 tahun silam, saat ayah saya berpulang. Tidak ada rasa terkejut, tidak pula rasa sakit di saat kejadian. Saya menemani beliau dalam sakitnya selama 7 tahun, suatu rentang waktu yang tidak sebentar untuk menjadi lumpuh, tak dapat  bicara, tak bisa berjalan, hingga tergeletak begitu saja tanpa daya di tempat tidur. Saya yang mendampingi beliau untuk berbagai hal : menyuapinya, memandikannya, beristinja’, menemaninya sholat dalam lafadz yang masih saja fasih didengar, mengajaknya bercerita meski tak 100 % ia tangkap, tertawa, memeluk tubuhnya, dan sebagainya. Dan Mamah, tentu saja terlebih-lebih lagi.

Di hari terakhirnya, saya berlari-lari mencarikan obat karena kondisi Bapak kian memayah. Jam menunjukkan pukul 17.30 saat itu, dan sepulang kerja saya mempercepat langkah agar bisa mencapai maghrib di rumah. Lalu saya melakukan aktivitas seperti biasa : shalat, bebersih, makan malam, dan menemani Bapak…

Lihat pos aslinya 620 kata lagi