Kalau Bisa Merangkul, Kenapa Harus Memukul? [Resume buku part 1]

gantungkan cambuk di rumahmu

Gambar dari Tokopedia

Aakhirnya nulis di blog ini lagii.. setelah sekian purnama berlalu. Hari ini tenggorokan saya lagi agak gatel, tapi gapapalah, apalah rasanya dibanding temen-temen saya Ibu di Palestina yang kondisi dan situasinya ga seaman dan senyaman saya. Tenggorokan gatel doang ngeluh. Mereka mah, roket jatoh ke kamar, tinggal pindah ngajarin anak ngaji di ruang sebelah. huks..

Jadi ceritanyaa.. saya kepengen ngeresume sebuah buku. Buku yang beberapa bulan ngendon dalam lemari tanpa saya sentuh plastiknya. Kemarin saya azzamkan kelar baca, dan ternyata butuh 2 hari (karena disambi kerjaan kantor dan yg lain). Saya kepengen banget baca buku ini, setelah terjadi peristiwa yang sempet saya ceritakan di Instagram saya beberapa waktu lalu: http://bit.ly/2h8xkqh

Baca lebih lanjut

Iklan

Gagal Ikut Kampanye

Adegan terjebak macet, kelaperan, Melipir makan dulu, Anak lanang muntah, kehabisan celana, beli celana, sampai akhirnya ga jadi ngikutin acara kampanye di lapangan banteng karena udah bubar dan ga bisa gerak alhamdulillah ada hikmahnya.
 
Ga kebayang kalo sholat di istiqlal, desek-desekan penuh perjuangan dengan membawa anak dan nyainya sekaligus..
 
Udah udah move oon.. cukup buka youtube 😛 seenggaknya nyai (mamak mertua kesayangan gue) berhasil closing 1 orang karyawan Ramayana, untuk milih Anies Sandi. hehhe
======================================================================
anies-sandi
Kami sedang dalam perjalanan menuju lapangan banteng, puku 10.30 itu.. namun hingga 11.30, belum juga nampak tanda-tanda dekat dengan lapangan banteng sementara Ummi sudah mulai menunjukkan gejala masuk angin kurang asupan makan. Khawatir terjebak sulit pulang dan belum makan, kami pun memutuskan untuk ke Menteng Huis dulu, makan di DCost.
“Ummi… kok kita ga ke tempat yang AYO BERRSAMA! KOBARKAN!* itu mii..” Tanya Ghozi.
“Eh.. iya nak.. kita makan dulu ya..”
Kami melipir ke satu tempat yang nasi dan tehnya gratis boleh refill nambah sepuasnya. Di sana si kakak bolak balik ambil teh. makan. minum. loncat. lari. gitu lagi bolak balik, sampai akhirnya..
“Aku sakit perut” ujarnya sambil memegang perut. wah.. apa mau mau pup ya..
Tiba-tiba.. Hoekk..ternyata dia merasa mual dan akhirnya lega dengan muntah menyembur. Apa bahasa medisnya ya. Muntah proyektil ya.. kayak peluru gitu ya.. heuu…
“Ayo.. tadi kenapa kakak muntah?”
“karena (kebanyakan) minum teh..” jawabnya. Setelah tenang. Wajahnya ceria seakan ga pernah terjadi apa-apa.
“ya udah kita pulang ya?”
“yah Ummi jangan pulang! kita kan mau ke AYO BERSAAMA! KOBARKAN! ayo mi aku ga mau pulang…”
“Ya udah kita ganti baju. Abis itu kita shalat dulu ya..”
Kami pun melipir ke Masjid megah yang terkenal dengan sajadahnya yang wangi, Cut Meutia.
“Aku mau wudhu ya mi..” dia menyingsingkan celana dan memulai ritual wudhu. bar ber byuurrr ealah nduk.. ini mah bukan wudhu.. mandi :’D… cuci kakinya pun bukan semata kaki, tapi sebetis. Oke, baju dan celana basah, ganti baju lagi. eh sebentar. Tadi bawa celana cuma sebiji? ini juga udah kuyup? alamat masuk angin kena AC nih.. akhirnya kami berempat bersama Nyai, jalan lagi ke Toko baju yang dikenal sering kasih diskon, baju berkualitas lumayan dan sering disambangi turis2 jalan jaksa (termasuk yang ‘kere’ katanya)..
Berbekal kaos Afrakids yang panjangnya sepaha, dan hanya mengenakan celana bagian dalam.. (hiks) Ghozi mengikutiku sampai ke lantai 3 berburu celana.
Selesai beli celana, kami kembali bergerak ke tempat yang dituju. Ternyata macet. Stuck. Sepertinya ada rekayasa lalu lintas karena kemacetan yang begitu parah.
Perasaan kami bercampur, sedih (apalagi anak lanang kami yang pengen banget ikut kampanye dan nyanyi bareng AYO BERSAMA! KOBARKAN! SEMANGAT WARGA JAKARTA!), campur haru.. melihat antusiasme warga jakarta yang hadir, melihat jalanan yang teramat padat dengan kendaraan berbendera putih dan baju gambar Anies-Sani.
istiqlal
Menyisakan secercah cahaya, banyaknya warga jakarta yang ingin adanya perubahan terutama perubahan Gubernur.
Jadi kesimpulannya, kalo pengen tau acara kemarin kayak gimana, baca youtube, denger berita aja deh ya.. sama ngunyah foto.. merinding liatnya euy, apalagi yang shalat jama’ah itu.. klo istiqlal udah segitu penuhnya, pantes banget sih kami yang dateng udah telat ga bisa gerak.
anis

AniesSandi Naik, Pendidikan Baik, Sembako Murah, Cari Kerja Mudah

*tempat kampanye
**penting banget kan ceritanya :p

Baby G (Habis)

Pagi ini saya membaca tulisan teman yang sedang khawatir karena mulas tak kunjung datang. Dia bertanya di FB maupun Instagram mengenai induksi alami. Tiba-tiba saya teringat akan tulisan lawas 4,5 tahun lalu di sebuah grup persalinan alami (Gentle Birth Untuk Semua). Tulisan yang jadi rangkuman, sebagiannya agak saya sesalkan karena cenderung mengiklankan tenaga kesehatannya bukan pemberdayaan dirinya. Hehe.. tapi tak apalah. Untuk jadi catatan sejarah jika nanti dibuka anak-anakku 🙂

Oya, tulisan tersebut sudah dipindahkan ke blog ini dengan awal dari sini, tapi akhirnya belum selesai dipindah. Silakan nikmati hasil gotongannya:

Baca lebih lanjut

Gara-Gara Wonderful Life

(Judul lain dari Si Enam Huruf yang Selalu Seksi dan Anak Istimewa)

“Tidak ada yang salah dengan anak Ibu,  Semua anak terlahir sempurna” (Wonderful Life, 2016)

Siang ini,, saya membuka-buka file video di gawai, menyaring video mana yang perlu disimpan dan yang perlu dihapus, supaya memorinya ga kepenuhan. Saya menonton video satu-satu, hingga sampai ke salah satu video berupa thriller sebuah film yang pernah ramai di linimasa FB. Oya, Film ini sudah tayang per 13 oktober kemarin, berjudul “Wonderful Life”.  Video ini dikirimkan oleh salah seorang sahabat saya, dan entah bagaimana, baru thrillernya saja Film ini sudah sukses mengaduk emosi saya. Baca lebih lanjut